ADHD Pada Balita: Kenali Gejala dan Penyebab Hingga Cara Mengobatinya

Ada berbagai syndrome atau gangguan yang seringkali menyerang si kecil. Salah satunya ADHD Syndrome, yang banyak orang menganggap sama dengan autis. Namun, dua syndrome ini ternyata memiliki perbedaan yang cukup jelas.

Pengertian ADHD

ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder merupakan istilah medis untuk gangguan mental berupa perilaku impulsif dan hiperaktif. Biasanya kondisi ini membuat anak mengalami gangguan gangguan pada fokusnya secara berlebihan.

Seorang anak yang mengalami ADHD biasanya akan mengalami kesulitan untuk berfokus dalam pelajaran maupun suatu kegiatan yang sedang diikutinya. Namun, jika penderita ADHD mendapatkan penanganan yang baik, maka akan membuatnya sukses di masa depan.

ADHD sendiri dikatakan sebagai gangguan pemusatan perhatian yang disertai dengan hiperaktivitas, jadi ini juga gangguan perkembangan dan neurologi. Dengan gangguan ini biasanya akan membuat anak mengalami kondisi sulit berkonsentarasi dan gelisah. Pada penderita ADHD juga sering mengalami permasalahan kesulitan belajar.

Untuk yang sering mengalami ADHD kebanyakan adalah anak laki-laki, biasanya 4:1 atau 9:1. Sebagian besar pada penyakit ADHD akan terdeteksi di usia anak-anak yang sudah masuk usia sekolah. Umumnya, anak yang terkena syndrome ini akan dianggap nakal karena sering mengganggu teman-teman dan guru di waktu proses belajar-mengajar atau jam istirahat.

Apa Saja Gejala ADHD Pada Anak?

Pada dasarnya, ADHD pada anak berhubungan dengan perilaku eksternalisasi yang lebih sering terjadi pada anak laki-laki. Tidak heran jika orang akan cenderung menyebut perilaku hiperaktif di kelas sebagai salah satu tanda-tanda ADHD.

Berbeda dengan anak perempuan yang memiliki gangguan ADHD biasanya sedikit adanya gejala hiperaktif dan impulsif perhatian anak perempuan penderita ADHD akan terganggu, Maka, Moms perlu memperhatikan si kecil dengan baik.

Dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa tanda ADHD seringkali tidak begitu terlihat pada anak perempuan. Biasanya pada anak perempuan gejalanya adalah hiperaktif-impulsif yang dianggap karena terlalu emosional, memaksa, atau banyak bicara.

ADHD adalah salah satu kondisi neuropsikiatri masa kanak-kanak yang paling umum. Ciri khasnya meliputi hiperaktif, kurangnya perhatian, dan impulsif. Untuk gejala ADHD yang muncul tentu bervariasi dan tergantung tipenya. Berikut adalah tipe gejala ADHD yang perlu orang tua ketahui.

1.     Tipe Inatentif (Kurang Perhatian)

Tipe ini biasanya akan membuat anak ADHD kesulitan untuk fokus mengerjakan tugasnya. Mereka sering membuat kesalahan kelalaian dan sulit mengorganisir aktivitasnya, serta fokusnya mudah teralihkan.

Anak tipe inattentive, juga dikenal sebagai ADHD tanpa hiperaktivitas, mereka memiliki gejala ADHD yang berkaitan dengan kurangnya perhatian dan ketidakmampuan untuk  fokus atau memperhatikan sesuatu dengan baik.

ADHD tipe ini bahkan cenderung kesulitan dalam menyelesaikan dan mengerjakan tugasnya. Selain itu, mereka juga merasa tidak nyaman mengikuti rutinitas harian.

2.     Tipe Hiperaktif-Impulsif

Anak akan bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Mereka kesulitan menunggu giliran dan sulit untuk pengendalian diri. Seringkali mereka mengganggu orang lain dan menyela pembicaraan. Serta berani mengambil risiko tanpa adanya pertimbangan yang matang. Bahkan mereka juga merasa gelisah dalam berbagai aktivitas, dan sulit untuk menahan diri tidak bicara.

Perlu untuk Moms ketahui, jika anak yang implusif biasanya ditandai dengan  bergerak cepat tanpa berpikir terlebih dahulu. Mereka sering mengambil tindakan  tanpa berpikir dulu tentang kemungkinan resiko kedepannya.

Dengan gejala impulsif ini yang menyebabkan anak ADHD sering tidak sabaran sehingga suka  menyela atau memotong pembicaraan orang lain, mendorong, dan bahkan tidak mau menunggu giliran. Mereka juga melakukan suatu tindakan tanpa izin yang berisiko membahayakan orang lain. Mereka akan bersikap impulsif, hal ini adalah reaksi dari emosial anak ADHD.

3.     Tipe Kombinasi

Tipe ini adalah kombinasi atau campuran dari ke dua tipe yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu inatensi dan hiperaktif-impulsif. Tentunya kondisi ini cukup sulit jika terbawa hingga dewasa, maka perlu perhatian dan penanganan segera.

Untuk tipe campuran biasanya memang tingkat keparahan terbilang tidak normal sehingga Moms harus mengtahui apa penyebabnya. ADHD pada anak perlu melakukan pengobatan sejak dini agar ketika dewasa nanti anak dapat mengontrol dirinya dengan baik.

Gejala ADHD yang muncul akan bervariasi pada setiap anak yang terkena syndrome ini. Seperti yang ditunjukkan oleh tipe ADHD. Berikut beberapa gejala ADHD anak yang bisa Moms kenali.

1.     Fokus Dengan Dirinya Sendiri

Anak ADHD biasanya tidak bisa mengenali kebutuhan dan keinginan orang lain. Mereka akan cenderung fokus dengan dirinya sendiri. Biasanya anak ADHD lebih cenderung sangat tidak sabar dan suka mengganggu teman-temannya.

2.     Kesulitan Mengendalikan Emosi

Gangguan ADHD pada anak biasanya akan kesulitan mengendalikan emosinya.  Mereka seringkali meluapkan  di waktu yang tidak tepat sehingga orang tua perlu untuk segera menanganinya, agar si kecil dapat belajar mengontrol emosi.

3.     Selalu Merasa Gelisah

Mereka yang mengidap ADHD sering tidak bisa duduk diam. Mereka akan merasa gelisah dan duduk tidak tenang. Hal ini tentu membuat anak-anak kesulitan karena tidak dapat bermain dan belajar dengan tenang.

4.     Menunjukkan Banyak Minat, tetapi Tidak Menyelesaikannya

Anak ADHD akan menunjukkan pada banyak minat yang berbeda. Namun, mereka tidak menyelesaikannya sama sekali dan sering kali merasa kesulitan. Seperti menyelesaikan tugas pekerjaan rumah yang tiba-tiba beralih pada tugas yang lainnya. Maka, Moms perlu memperhatikannya dengan baik, apabila muncul tanda-tanda tersebut.

5.     Cenderung Sulit Fokus

Biasanya anak dengan gangguan ADHD akan cenderung kesulitan untuk fokus dalam suatu hal. Mereka kesulitan memperhatikan sesuatu dengan baik. Meskipun anak tersebut berkata mendengarkan apa yang dibicarakan orang lain kepadanya, anak ADHD tidak bisa mengulami apa yang dikatakan lawan bicaranya.

6.     Ceroboh dan Menyebabkan Kesalahan

Sering kali anak ADHD akan membuat kesalahan dan ceroboh. hal ini terjadi bukan karena anak tersebut malas, namun bawaan ari ADHD syndrome. Si kecil kesulitan menerima intruksi atau rencana yang telah disusun. Dalam kondisi ini pengawasan dan perhatian orang tua sangat diperlukan.

7.     Mudah Bosan

Gangguan ADHD pada anak biasanya akan bosan pada sesuatu lebih cepat karena anak dengan syndrome ini kesulitan untuk merasa tenang. Mereka cenderung tergesa-gesa dalam berbagai kegiatan dan sering melakukan kesalahan. Biasanya mereka akan melakukan tindakan yang cukup mengganggu orang lain.

8.     Kesulitan Berinteraksi

Gangguan ADHD juga membuat anak kesulitan dalam berinteraksi sehingga kesulitan dalam sosialnya. Dengan kesulitan interaksi dapat menyenangkan kesalahpahaman dan miskomunikasi.

9.     Mudah Lupa

Tidak hanya kesulitan konsentrasi saja, anak dengan gangguan tersebut juga mudah lupa meski melakukan aktivitasnya sehari-hari. Mereka akan mudah lupa menaruh barang atau sedang melakukan suatu pekerjaan rumah. Maka, Moms bisa membantu si kecil dengan mengingatkannya dengan sabar.

10.  Mudah Tersinggung dan Cepat Marah

Ternyata anak gangguan ADHD juga memiliki rasa mudah tersinggung dan cepat marah. Moms bisa memberikan pengarahan pada si kecil secara perlahan-lahan agar tidak mudah merasa tersinggung dan marah.

11.  Mudah Lelah

Perlu Moms ketahui anak ADHD biasanya juga akan mudah merasa lelah dengan tugas yang dikerjakannya. Mereka akan cenderung kehilangan minat pada tugas yang membutuhkan perhatian dalam waktu panjang sehingga daya tahan mentalnya sangat kurang.

12.  Mudah Frustasi

Dalam beberapa gejala yang sering muncu pada anak ADHD adalah mudah frustasi ketika melakukan suatu pekerjaan atau tugas. Bahkan  mereka akan merasa gagal dan stres dengan kondisi lingkungan yang tidak nyaman.

13.  Sering Melamun

Dalam sebuah studi menemukan jika anak ADHD juga ada yang pendiam dan suka melamun, mereka tidak berisik dan ribut seperti anak ADHD lainnya. Beberapa anak ini biasanya cenderung mengabaikan yang sedang terjadi di sekitarnya. Maka, Moms perlu mengenali tanda-tanda seperti apa saja yang menunjukkan bahwa si kecil adalah ADHD.

14.  Kesulitan Dalam Pecahan Masalah

Anak dengan ADHD tidak hanya kesulitan dalam merencanakan, menyelesaikan, atau organisasi. Gangguan tersebut juga membuat anak kesulitan dalam pemecahan masalah. Kondisi ini terjadi karena ada bagian otak yang tidak berkembang sehingga anak akan mengalami kesulitan tersebut.

Dengan dukungan dari lingkungan sekitar dan orang lain memahaminya, terutama orang tua akan membantu perkembangan anak ADHD menjadi lebih baik.

Gejala ADHD ternyata masih sulit untuk dijelaskan dengan baik karena berkaitan oleh gangguan mental. Apalagi ADHD menyakut tentang gangguan kepribadian hingga mood.

Penyebab ADHD Pada Anak

ADHD juga dikatakan sebagi gangguan perilaku karena terjadinya masalah pada sistem saraf anak. Untuk syndrome ini memang belum diketahui secara pasti apa penyebabnya, namun berikut beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab ADHD syndrome.

1.     Genetik

ADHD dari genetik atau keturunan menjadi salah satu faktor yang banyak terjadi. Jika satu atau kedua orang tua memiliki ADHD, maka anak mereka akan berisiko tinggi memiliki gangguan ADHD.

2.     Ketidakseimbangan Otak

Ternyata ketidakseimbangan dalam neurotransmitter, dapat memicu munculnya gangguan ADHD pada anak. Fungsi neurotransmitter sendiri adalah meningkatkan dan menyeimbangkan sinyal di otak. Selain itu, juga membantu mengelola respon pada tubuh secara otomatis. Hal ini, juga mempengruhi  aktivitas motorik anak.

3.     Terjadinya Masalah Selama Kehamilan

Selama masa kehamilan ada berbagai larangan yang diberlakukan bagi ibu hamil seperti merokok atau minuman yang beralkohol. Selain itu, paparan zat dari lingkungan sekitar sangat berbahaya bagi kesehatan janin dan ibu. Hal ini dapat memicu terjadinya ADHD pada si kecil nantinya.

4.     Bayi Terlahir Prematur

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terkena ADHD. Hal yang sama juga dapat terjadi pada anak-anak yang memiliki cedera kepala. Maka, bayi prematur akan langsung diberikan penangan yang tepat.

5.     Lingkungan

Lingkungan ternyata juga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap munculnya gangguan ADHD pada anak. Paparan dari cat rumah atau bensin, termasuk racun yang cukup berbahaya apabila terhirup anak.

Senyawa yang terkandung didalamnya dapat mempengaruhi perkembangan otaknya. Dengan racun yang masuk dalam tubuhnya dapat mempengaruhi munculnya ADHD.

Perlu Moms ketahui jika ADHD merupakan kondisi yang kompleks, di mana anak-anak akan berisiko memiliki ADHD lebih tinggi. Dengan kondisi ADHD yang tinggi, Moms harus segera melakukan penanganan yang dibantu oleh profesional kesehatan mental berlisensi  terhadap gejala yang muncul.

Cara Mengobati ADHD Pada Anak

Untuk melakukan pengobatan ADHD pada anak tenyata memiliki banyak cara, terutama yang melibatkan pendekatan karakter yang menggunakan berbagai metode. Namun, harus disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak dalam proses pengobatannya.

Mengobati gangguan ADHD pada anak memang tidak mudah. ADHD pada anak cukup sulit untuk ditangani, maka perlu penanganan yang baik. Meskipun ADHD memang ditangani dengan pengobatan yang tepat, namun tidak dapat disembuhkan secara total. Berikut beberapa pengobatan dan penanganan ADHD pada anak.

1.     Terapi Perilaku

Terapi perilaku menjadi salah satu pengobatan yang  dilakukan untuk mendorong anak agar mengendalikan gejala ADHD. Moms bisa memberikan penghargaan yang sederhana pada anak ketika mampu mengendalikan gangguan ADHD tersebut.

2.     Terapi Psikoedukasi

Moms bisa mengajak si kecil untuk terapi psikoedukasi yang mengajak anak untuk bercerita. Biasanya mereka akan ditanya mengenai apa saja kesulitan yang dialaminya. Terapi ini, diharapkan dapat membantu mengatasi gejala ADHD dengan baik.

3.     Terapi interaksi sosial

Ada berbagai cara pengobatan untuk ADHD, salah satunya adalah jenis terapi yang membantu si kecil memahami perilaku sosial dengan layak dalam situasi tertentu. Para ahli akan membimbing orang tua atau orang terdekat si kecil agar dapat mendampinginya.

Biasanya pendidikan khusus yang dipilih oleh anak ADHD adalah homeschooling. Maka, Moms perlu untuk menerapkan program pelatihan untuk membantu aktivitas si kecil yang terkena gangguan ADHD.

4.     Mengkonsumsi Obat

Cara yang sering dilakukan untuk mengatasi ADHD adalah memberikan anak obat-obatan yang khusus  digunakan penderita ADHD agar merasa lebih tenang dan dapat mengurangi sifat impulsifnya. Dengan memberikan obat tersebut dapat membantu memfokuskan perhatian si kecil.

5.     Terapi Psikologi

Dengan dilakukannya terapi psikologi diharapkan dapat membantu anak ADHD mendapatkan solusi yang tepat. Terapi ini cukup efektif untuk dilakukan sehingga orang tua dapat melakukan penanganan dengan tepat.

6.     Memberikan Dukungan Pada Anak

Sebagai orang tua, Moms bisa memberikan dukungan pada anak ADHD untuk setiap aktivitas positif yang dilakukannya. Dengan penangan dan dukungan yang baik dari orang-orang terdekatnya dapat membantu anak ADHD sukses nantinya. Moms bisa mengajarkan dan memberitahu setiap hal satu persatu pada anak ADHD, mengatur mainan-mainannya di rumah.

7.     Mengajarkan Kegiatan Fisik

Kegiatan fisik untuk anak ADHD sangat penting karena dapat membantu mereka mendapatkan kualitas tidur yang baik. Maka, peran orang tua sangat penting dalam  memberikan pelatihan dasarnya. Dengan cara perlahan, namun konsisten akan membuat si kecil lebih tenang dan perhatiannya tidak akan teralihkan.

8.     Membantu Anak Menemukan Minatnya

Anak ADHD memang membutuhkan pengasuhan yang berbeda dengan anak normal seusianya. Sebagai orang tua, Moms bisa membantu si kecil menemukan minatnya. Orang tua berperan penting dalam membangkitkan semangat anak. Dengan memberikan pelatihan dan membantu untuk belajar mereka akan mampu mengatasi gangguan ADHD.

9. Terapi Okupasi
Anak dengan gangguan ADHD bisa menggunakan cara pengobatan terapi okupasi yang memang diperuntunkan bagi mereka yang mengalami keterlambatan fisik hingga kognitif. Terapi ini digunakan untuk mendapatkan kepercayaan diri.

Sebelum memutuskan menggunakan terapi okupasi, Moms perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli anak yang mengurusi gangguan ADHD agar mendapatkan saran yang tepat.

10.  Konsumsi Makanan dan Minuman yang Banyak Mengandung Nutrisi

Beberapa penelitian menunjukkan jika gejala ADHD juga dapat muncul apabila kekurangan nutrisi. Pastikan Moms mengatur pola makan yang sehat bagi si kecil. Namun, Moms perlu untuk mengurangi konsumsi gula dan makanan yang berwarna buatan, seperti makanan dari bahan kimia.

11.  Membatasi Pilihan

Biasanya anak yang ADHD akan tersimulasi secara berlebihan , maka perlu untuk pembatasan pilihan. Hal ini dilakukan agar anak tidak dapat fokus dengan pilihan tersebut dan mampu menyelesaikannya dengan baik.

12.  Berbicara dengan Lebih Jelas

Anak ADHD dengan hiperaktif cenderung kesulitan dalam mengikuti instruksi atau rencana, maka Moms perlu berbicara dengan kalimat yang jelas dan singkat. Cara ini dilakukan agar si kecil dapat lebih mudah untuk memahaminya dengan baik.

13.  Memberikan Anak Pujian

Ternyata memberikan anak pujian juga bisa menjadi salah satu cara untuk mengobati ADHD si Kecil. Moms bisa memberikan pujian dan hadiah kecil saat anak berhasil menyelesaikan suatu tugas. Cara ini penting untuk Moms lakukan agar anak mengerti mengenai perilaku baik yang dapat diterima dan perilaku buruk yang tidak dapat diterima.

14.  Membantu Anak ADHD untuk Percaya Diri

Moms membantu si kecil agar lebih percaya diri. Moms bisa mendukung minat anak dibidang tersebut, seperti menggambar atau bermusik. Dengan membantu mengembangkan minat dan bakat alaminya akan membuat anak memiliki pencapaian yang besar. Cara ini perlu untuk Moms terapkan dirumah, terutama pada anak yang mengalami gangguan ADHD.

15.  Mengajarkan Anak Menyelesaikan Pekerjaan Hingga Tuntas

Pada dasarnya, anak ADHD memang kesulitan menerima dan menyelesaikan intruksi pekerjaan hingga tuntas. Maka, Moms perlu membantunya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut sampai selesai. Moms bisa mengajak si kecil mencari cara untuk menyelesaikannya dengan baik, seperti membuat jadwal harian di rumah tentang apa saja yang perlu dikerjakan.

16.  Obat Stimulan

Salah satu cara yang dilakukan untuk membantu mengobati anak ADHD adalah memberikan obat stimulasi yang efektif dan aman. Namun, penggunaan obat ini belum masuk ke Indonesia, sehingga obat yang tersedia adalah non stimulasi sebagai alternatif untuk menghambat terjadinya gejala ADHD.

17.  Terapi Farmakologi

Ternyata ada berbagai jenis terapi yang dapat ditawarkan untuk mengobati gangguan ADHD. Namun, cara terapi ini cukup berbeda karena melibatkan penggunaan obat sebagai alat terapinya. Obat yang diberikan terlebih dahulu disesuaikan dengan sifat fisiologi atau mikrobiologinya, antara penyakit satu dengan yang lainnya.

18.  Terapi Keluarga

Terapi keluarga adalah cara yang perlu untuk dilakukan karena melibatkan keluarga untuk memberikan dukukungan pada anak ADHD  dapat membantu si kecil mengontrol gangguan tersebut dengan baik. Moms bisa menciptakan lingkungan yang aman bagi anak ADHD sehingga mereka bisa merasa nyaman.

19.  Obat Non Stimulasi

Untuk pemberian obat non stimulasi memang menjadi alternatif bagi anak ADHD. Namun, obat tersebut akan diresepkan apabila stimulasi yang terjadi tidak sesuai dengan kondisi anak dan tidak efektif.

20.  Terapi Perilaku Kognitif

Jenis terapi ini dilakukan dalam bentuk psikoterapi, yang efektif untuk menekan gejala ADHD agar anak dapat melakukan aktivitas hariannya tanpa adanya masalah. Terapi ini dapat melatih si kecil untuk berperilaku baik.

Untuk melakukan pengobatan pada anak ADHD tentu membutuhkan kerja sama yang baik dengan banyak pihak, seperti psikiater, dokter anak, orang tua, hingga pihak sekolah. Hal ini dilakukan agar anak dapat mempelajari dan menghadapi gangguan ADHD dengan lebih tenang dan aman.

Dari ulasan Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp. A(K) cara pengobatan untuk anak ADHD ada dua, yaitu terapi obat-obatan dan terapi non obat-obatan seperti yang sudah disebutkan diatas. jika anak aktif dan tidak bisa dikendalikan, maka perlu diberikan obat-obatan.

Meskipun secara medis mengatakan jika ADHD tidak sepenuhnya dapat disembuhkan. Namun, anak bisa mendapatkan penanganan dan pengobatan yang membantu meredakan gejala dari ADHD tersebut. jadi dapat dikatakan jika pengobatan ADHD harus ditentukan dengan baik dan terencana agar perawatannya dapat berjalan lancar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *